Rabu, 27 Juni 2007

Tinjauan Filosofi : Rumah Adat Sasak

I. PENDAHULUAN

Lombok Tengah adalah salah satu Kabupaten di Pulau Lombok yang didiami oleh masyarakat komunitas Sasak, komunitas ini sudah lama mengenal peradaban sejak masa kehidupan megalitikum hingga peradaban masa kini, Sasak sebagaimana yang disebutkan pada Piagam Nagara Kartha Gama pada pupuh 14 Pulau ini disebut “LOMBOQ MIRAH SAK-SAK ADHI” berdasarkan pengakuan Empu Nala yang menjadi kepercayaan Patih Gajah Mada pada eksistensi Kerajaan Mojopahit dibawah pemerintahan Ratu Tribuana Tungga Dewi, disamping pustaka Nagara Kartha Gama sebagai kitab Undang Undang Kerajaan Mojopahit, dimana Puilau Lombok ini adalah merupakan bagian integral dari kerajaan tersebut.

Rakyat Selaparang yang mendiami daratan Pulau Lombok (masyarakat Sasak) pada umumnya mengenal pustaka yang dinamakan Pustaka Lontar KOTARA GAMA, buku ini adalah yang mengatur tentang Teritorial kekuasaan Kerajaan Selaparang dan Hukum yang mengatur tentang tatanan kehidupan Kaula Selaparang/masyarakat Sasak dimasa lampau, dari sudut pandang inilah dapat kita kesimpulkan bahwa, masyarakat komunitas Sasak ini mengenal peradaban sejak berabad-abad yang lampau.

Melihat kondisi masyarakat Sasak yang mampu mempertahankan keberadaannya sejak dahulu kala, maka tidaklah berlebihan jika komunitas ini mampu menciptakan arsitektur, ornamen dan tata ruang bangunan pada lingkungan hidupnya sendiri sebagaimana kehidupan komunitas yang lain.

Berdasarkan apa yang diketahui dan dikenalnya, komunitas ini mampu dalam menciptakan, merasakan dan berkarsa, dengan kata lain yaitu berbudaya atau berperadaban yang layak, cipta rasa dan karsanya inilah sebagai wujud kemampuannya dalam mempertahankan kehidupannya dalam lingkungannya sendiri.

Kemampuan yang dimiliki dalam seni mambangun rumah tinggal untuk melindungi kehidupan rumah tanggannya, mereka tidak hanya mampu menciptakan ornamen dan tata ruang saja, akan tetapi dalam karsanya itu terkandung pula nilai-nilai pilsafati yang sangat tinggi dan sakral menurut keyakinan mereka, misalnya ketika merekan membuat atau membangun suatu lingkungan pemukiman yang didalamnya ada bangunan rumah tinggal untuk melindungi dirinya beserta keluarga mereka, dalam kesempatan ini akan kami suguhkan beberapa bentuk dan tata ruang Rumah Adat Sasak dan filosofinya sesuai dengan fungsi dan kegunaannya serta tumbuh-tumbuhan yang menjadi pantangan bagi diri mereka.

II. BANGUNAN RUMAH ADAT SASAK DAN FILOSOPINYA

A. Bangunan Rumah Adat :
Rumah sebagaimana pemahamannya adalah sebagai tempat berlindung sekaligus juga sebagai tempat menyimpan harta benda yang dimilikinya, dalam masyarakat komunitas Sasak, dalam membangun rumah itu disesuaikan dengan kebutuhan keluarga maupun kelompoknya disatu lingkungan, bangunan rumah tersebut memiliki nama sesuai dengan fungsi dan
kegunaannya serta nilai filosopi yang terkandong didalamnya, adapun jenis rumah antara lain sbb. :

1. BALE T A N I :
Bale Tani adalah bangunan rumah yang ditempati sebagai rumah tinggal oleh masyarakat komunitas Sasak dilingkungan kebanyakan terutama sekali yang berpencaharian sebagai petani, bangunan ini adalah satu buah rumah yangberlantaikan tanah dengan tata ruangnya terdiri dari satu ruang untuk serambi (Sesangkok) dan satu ruang untuk kamar (dalem bale), pada umumnya bale tani ini kamar (dalem bale) yang ada pada bangunan tersebut, tidak dipakai sebagai tempat tidur, melainkan untuk tempat menyimpan barang (harta benda) yang dimilikinya, kecuali bagi keluarga yang mempunyai anak gadis akan tidur dikamar (dalem bale), sedangkan tempat tidur bagi yang lain selain gadis adalah sebagian dari serambi yang ada, untuk keperluan masak memasak (dapur) masyarakat Sasak membuat tempat khusus yang disebut pawon.
Sedangkan designe atap rumah atau bale tani, ini umumnya dengan sistim jurai yang atapnya terbuat dari alang-alang dimana ujung atap bagian Serambi (sesangkok) sangat rendah sebatas kening pada ketinggian orang berdiri, hal ini dikandung maksud agar siapapun yang datang dan hendak duduk diserambi rumah tersebut maka dia akan merunduk, sikap tunduk ini diartikan saling hormat menghormati dan saling menghargai antara tamu dengan tuan rumah.
Adapun dinding rumah bale tani ini terdiri dari bedek disekitar kamar dalem bale, sebangkan pada serambi/ sesangkok tidak menggunakan dinding melainkan terbuka lebar, pondasi bale tani ini terbuat dari tanah yang artinya, bahwa manusia itu tidak dapat dipisahkan dengan tanah sebab tanah adalah unsur meterial penciptaan manusia oleh Allah SWT. Antara serambi/sesangkok dengan kamar (dalem bale) tidak sama, kamar lebih tinggi dari pada serambi, untuk masuk kekamar (dalem bale) dibuatkan tangga ( undak-undak ) yang biasanya dibuat tiga trap dengan pintu yang dinamakan lawang kuri, dengan tidak samanya tinggi pondasi serambi (sesangkok) dengan kamar (dalem bale) tersebut.
Hal ini diartikan bahwa siapapun manusia ciptaan Tuhan tidak akan sama ketaqwaannya, ilmu pengetahuannya maupun kekayaannya, dengan dibentuknya pondasi seperti ini, maka diharapkan agar kita semua senantiasa ingat akan segala kekurangan dan kelebihan itu sebagai rahmat Tuhan. Adapun tinggi pondasi rumah bale tani ini berkisar yaitu untuk serambi dengan ketingian 70 – 80 Cm. Dari permukaan tanah sedangkan ketinggian untuk kamarnya sekitar 50 – 60 Cm. Dari permukaan serambi, sehingga setiap bale tani selalu ada tangga (undak-undak) yang sama bahan pembuatannya dengan bahan pondasi, dari halaman (leleyah) untuk masuk ke rumah, juga dibuatkan tangga (undak-undak), pada umumnya lingkungan bangunan rumah lokasi pemukiman tersebut senantiasa didukung/dilengkapi dengan sarana penyimpanan hasil pertanian seperti bangunan Sambi, alang dan lumbung sebagaimana khasnya bangunan gedung di Pulau Lombok masa kini, disamping itu pula ada bangunan sekepat / berugaq dan sekenam.




2. BALE J A J A R :
Bale Jajar adalah merupakan bangunan rumah tinggal bagi masyarkat komunitas Sasak dikalangan masyarakat golongan ekonomi menengah keatas,, bentuknya hampir sama dengan bale tani, sedangkan bedanya Bale Jajar memiliki dua kamar (dalem bale) dan satu serambi (Sesangkok) diantara dua kamar tersebut terpisah dengan adanya lorong/koridor dari serambi / sesangkok menuju dapur dibagian belakang pada dua kamar (dalem bale) tersebut satu kamar lebih kecil dari kamar yang lain, sedangkan posisi tangga/pintu koridornya terletak pada sepertiga dari panjang bangunan bale jajar, designe atap sama sengan bentuk bale tani akan tetapi, pada bale jajar difasilitasi dengan dapur dibelakang yang sebagiannya untuk kandang ternak peliharaan dan atau tempat menyimpan alat pertanian yang dimiliki, bale jajar ini hingga sekarang masih kita temui ditempat - tempat tertentu, misalnya diperkampunganorang-orang bangsawan di Desa Mantang Kec. Batukliang, Desa Sengkol Kec. Pujut dan Desa Bonjeruk, Desa Sukarara Kecamatan Jonggat Lombok Tengah.
Bale Jajar ini menggunakan bahan terediri dari tiang kayu, dinding bedek dan atap dari alang-alang, akan tetapi ada dibeberapa tempat sudah mulai menggunakan genteng tetapi dengan tidak merubah tata ruang dan ornamennya, bangunan bale jajar ini biasanya berada dilingkungan pemukiman yang luas dan rata-rata memiliki halaman yang cukup luas dan umumnya bangunan bale jajar ini ditengarai pula dengan menjulang tingginya alang / sambi sebagai tempat penyimpanan logistik kebutuhan rumah tangga dan atau keluarga lainnya.
Dibagian depan rumah bale jajar ini bertengger sebuah bangunan kecil dinamakan berugaq atau sekepat dan dibagian belakang rumah bale jajar berdiri sebuah bangunan yang dinamakan Sekenam, bangunan sekenam ini hampir sama seperti berugaq atau sekepat, yang membedakan adalah tiangnya berjumlah enam.

3. BERUGAQ / SEKEPAT :
Berugaq / Sekepat adalah merupakan salah satu bangunan pendukung dalam tata ruang bangunan tradisional Sasak, berugaq ini berbentuk segi empat sama sisi (bujur sangkar) bangunan ini terbuat dari kayu, bambu dan alang-alang sebagai atapnya dengan tidak menggunakan dinding, berugaq atau sekepat ini biasanya ditempatkan pada depan samping kiri atau kanan bangunan rumah bale jajar atau bale tani, berugaq / sekepat ini didirikan setelah dibuat kan pondasi terlebih dahulu kemudian didirikan tiangnya berjumlah empat diantara tiang yang empat dibuat lantai dengan ketinggian 40 – 50 Cm. beralaskan papan kayu dan atau bilah bambu dianyam dengan tali pintal (Peppit), dibagian atasnya ada kayu ganda sebagai mirplatnya kemudian diatap dengan alang-alang, berugaq / sekepat ini tidak akan pernah didapati dalam bentuk atap gudangan akan tetapi ciri khasnya adalah dengan atap jurai.
Fungsi dan kegunaan Berugaq / sekepat adalah sebagai tempat menerima tamu, menurut kebiasaan orang Sasak, tidak semua orang boleh masuk kerumah, oleh karena itu dibuatlah berugaq / sekepat ini sebagai alternatif tempat untuk menerima tamu, disamping itu pula bagi pemilik rumah
yang memiliki gadis, ditempat inilah ia menerima pemuda yang datang midang, lebih lanjut berugaq / sekepat ini harus dalam bentuk terbuka tidak memiliki dinding apalagi penyekat karena siapapun berada ditempat itu akan dapat dilihat dan disaksikan oleh semua orang, disamping itu juga untuk menjaga agar hal-hal yang negatif tidak akan terjadi, terlebih lagi jika tamu laki-laki datang disaat tuan rumah sedang tidak ada ditempat, maka diberugaqlah tempat duduknya.
Menurut beberapa Nara Sumber menjelaskan bahwa, tiang Berugaq / Sekepat yang berjumlah empat tersebut, digambarkan beberapa hal yang sangat diperhatikan oleh masyarakat komunitas Sasak dimasa lampau yaitu : Kebenaran yang harus diutamakan ; Kepercayaan diri dalam memegang amanah ; dalam menyampaikan sesuatu hendaknya berlaku jujur dan polos dan sebagai orang yang beriman hendaknya pandai / cerdas dalam menyikapi masah (tanggap) , atap yang memayungi Berugaq/Sekepat tersebut, menggambarkan bahwa Tuhan Maha tahu atas segalanya, baik yang tersirat maupun yang tersurat apalagi.

4. S E K E N A M :
Sekenam adalah merupakan sarana pendukung dalam tata ruang pemukiman masyarakat komunitas Sasak, designe dan ornamennya hampir sama dengan berugaq / sekepat, hanya yang membedakan adalah kalau berugaq / sekepat memiliki tiang empat buah sedangkan sekenam memiliki tiang sebanyak enam buah, bangunan sekenam ini biasanya dibangun atau diletakkan pada bagian belakang rumah, dan dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tentang Tata Krama, ilmu sosial lainnya dan dipergunakan pula sebagai tempat pertemuan keluarga secara internal.

5. BALE B O N T E R :
Bale Bonter adalah sebuah bangunan tradisional Sasak yang umumnya dimiliki oleh para perkanggo/ Pemerintah Desa, Dusun / kampung, bale bonter ini dipergunakan sebagai temopat pesangkepan / persidangan adat antara lain sebagai tempat penyelesaian masalah pelanggaran hukum adat, tempat pembuatan awig-awig baik Awig-awig Desa maupun Gubug atau kampung/ banjar keluarga.
Bale Bonter ini dapat juga disebut Gedeng Pengukuhan dan tempat menyimpanan benda-benda bersejaran atau pusaka warisan keluarga, bale Bonter ini berbentuk segi empat bujur sangkar, memiliki tiang paling sedikit 9 buah dan paling banyak 18 buah tiang, bangunan ini dikelilingi dengan dinding bedek atau tembok ditengahnya tidak memiliki sekat, melainkan seperti aula, designe atap tidak memakai nock / sun, hanya pada puncak atapya itu menggunakan tutup berbentuk kopyah berwarna hitam.
Bale Bonter ini biasanya dibangun ditengah-tengah pemukiman dan atau dapat pula dibangun di pusat pemerintahan Desa / kampung.

6. BALE B E L E Q BENCINGAH) :
Bale Beleq adalah salah satu sarana penting bagi sebuah Kerajaan, dimana bale beleq ini diperuntukkan sebagai tempat kegiatan besar Kerajaan, bale beleq ini dapat pula disebut “Bencingah” sebab ditempat ini Datu / Raja menyelenggarakan upacara ceremonial kerajaan seperti :
- Pelantikan Pejabat Kerajaan
- Penobatan Putra Mahkota Kerajaan
- Kegiatan anjenengan
- Pengukuhan/penobatan para Kiyai Penghulu (Pendita) Kerajaan,, disamping itu ditempat ini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda Pusaka Kerajaan seperti persenjataan dan benda pusaka lainnya seperti pustaka / dokumen dokumen Kerajaan
Bale Beleq ( Bencingah) ini tidak dapat dibuka pada sembarang waktu, melainkan hanya boleh dibuka pada waktu-waktu tertentu sesuai perintah Sang Raja ( Datu). bentuk Bangunan Bale Beleq (Bencingah) ini pondasi dibuat lima trap tangga (undak-undak), hal ini disesuaikan dengan keberadaan / status serta struktur Pemerintahan pada masa itu / eksistensi Kerajaan Selaparang & Pejanggiq.
Bangunan berbentuk segi empat bujur sangkar, disetiap penjurunya ditambah dengan semacam teras akan tetapi menyatu dengan induk bangunan tersebut hal ini nejunjukkan bahwa, kecerdasan itu akan nampak manakala menyampaikan sesuatu yang benar dan yang benar itu wajib dipercaya, prilaku yang seperti inilah bentuk dari watak dan karaktristik masyarakat komunitas Sasak yang sebenarnya.

7. BALE T A J U K :
Bale Tajuk ini salah satu sarana pendukung bagi bangunan rumah tinggal yang memiliki keluarga besar dan luas, bale tajuk ini berada ditengah lingkungan keluarga santana, bangunan ini dipergunakan sebagai fasilitas pertemuan keluarga besar yang ada, disamping itu juga sebagai tempat pelatihan macapat takepan, Lontar maupun Bell sebagai suatu upaya dalam menambah wawasan tentang pustaka lama, belajar Tata Krama.
Bentuk dan ciri khas bale tajuk, pada umumnya dengan denah segi lima dengan tiang berjumlah lima buah, ini melambangkan bahwa masyarakat komunitas Sasak adalah masyarakat yang religius yang menurut keyakinan mereka, setiap mahluk hidup pasti akan mati, setiap sesuatu yang lahir maka pasti akan berakhir, pada pondasi bersusun tiga trap menunjukkan rasa syukur atas nikmat Tuhan, kesabaran jiwa dalam menempuh segala ujian dan ikhlas dalam pengabdiannya kepada Nusa, Bangsa serta Agama yang dianut.

Disamping bentuk dan designe bangunan rumah adat Sasak seperti tersebut diatas, adapula jenis bangunan lain seperti Bale “Gunung Rate” dan Bale “Balaq”, Bale Gunung Rate ini biasanya dibangun oleh masyarakat yang tinggal lereng pegunungan, sedangkan Bale Balaq ini sesuai dengan namanya balaq artinya bencana, maka untuk menghindari bencana banjir, maka masyarakat dipesisir pantai membangun rumah Bale Balaq, bangunan iniberbentuk rumah panggung.

B. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan Rumah Adat Sasak

1. Waktu membangun rumah
Masyarakat komunitas Sasak sangat memperhatikan kapan waktu, hari, tanggal dan bulan yang akan ditempati untuk mengawali pembanguan rumah maupun segala kebutuhannya, dalam menentukan waktu untuk itu, mereka menggunakan papan warige sebagai pedomannya yang bersumber dari primbon Tapel Adam dan Tajul Muluq, hal ini sudah merupakan kebiasaannya sejak turun temurun bagi masyarakat Sasak.
Dalam membangun rumah tinggal biasanya masyarakat Sasak sellalu mengawalinya pada bulan ketiga dan bulan ke duabelas penanggalan Sasak, yaitu pada bulan Rabiul Awwal dan bulan Zulhijjah dan atau tanggal dan bulanny disesuaikan dengan nama orang yang akan membangun, dengan demikian maka pada bulan tersebut tidak mutlak untuk ditempati selain itu kecuali pada bulan Muharram dan Ramadlan tidak dibenarkan pula, sebab pada bulan ini jika membangun rumah menurut kepercayaan sejak lama, tidak akan mendapat berkah, bahkan akan mendapat petaka bagi pemiliknya.
Khusus pada bulan zulhijjah, pengerjaan awal bangunan itu dilakukan pada sembilan jari pertama yaitu tgl. 1 - 9 bulan ini, setelah lewat tanggal tersebut, kurang disetujui untuk mengawali pembangunan rumah ataupun pembangunan sarana lainnya.

2. Lokasi / tempat yang tidak dibenarkan membangun
Masyarakat Sasak tidak hanya mengenal bentuk, designe dan tata ruang bangunan sebagai kreatipitasnya dalam membangun rumah tinggal, dalam fatwa dan kebiasaan secara turun temurun, masyarakat Sasak juga mengnal / mengetahui hal mana yang akan dilakukan, ketika akan membangun rumah tinggal, dan pada kondisi, situasi maupun lokasi yang mana untuk tidak diperbolehkan membangun rumah tinggal.
Sebagai kebiasaan masyarakat tidak dibenarkan membangun rumah tinggal pada bekas tempat perapian, walaupun bahwa perapian tersebut bersifat sementara, sebab jika ini terjadi, maka anak yang lahir ditempat ini akan membawa petaka kelak setelah dewasa menurut faham secara turun temurun, demikian pula jika membangun rumah tinggal pada bekas tempat pembuangan sampah, atau bekas sumur, dan pada posisi jalan tusuk sate, yang menurut faham lokalnya adalah bangunan Susur Gubug ini juga tidak dibenarkan oleh orang tua dahulu. Adapula jika terjadi membangun rumah tinggal tidak sama arahnya dengan bangunan rumah tinggal yang sudah ada, maka itu menandakan bahwa penghuni kampung tersebut tidak harmonis, sebab membangun rumah tinggal yang berlawanan arah panjang lebarnya satu rumah dengan rumah yang lain maka pola itu disebut numbak hal ini juga tidak dibenarkan oleh aturan Gubug atau kampung, jadi pada kesimpulannya, masyarakat Sasak tidak akan pernah terjadi membangun rumah tinggal ditempat-tempat larangan diatas, jika hal itu terjadi maka itu dianggap melawan tabu ( maliq-lenget).

3. Tumbuh-tumbuhan pantangan
Disamping rumah-rumah Adat serta bangunan pendukung yang ada sebagai fasilitasnya, masyarakat komunitas Sasak sangat memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang menjadi pantangan jika tumbuhan itu tumbuh dihalaman rumah maupun pekarangan, dalam keyakinan masyarakat Sasak, ada beberapa jenis tanaman pantangan yang menjadi perhatian masyarakat untuk tidak ditanam dan atau tidak berikan tumbuh dihalaman / pekarangan rumah

Adapun jenis tanaman yang pantang menurut keyakinan mereka antara
lain sebagai berikut :


3.1. Pohon Nangka (ArpocorpusHeterophylliues L) Lolon nangke istilah bahasa Sasak, sifat pohon nangka ini menurut faham masyarakat Sasak, adalah sangat agung, sehingga apabila ditanam didekat pondasi rumah, dikhawatirkan akarnya akan masuk kedalam pondasi rumah tsb. Sedangkan pohon nangka ini tidak boleh berada dibawah, baik sengaja ataupun tidak disengaja jika ini terjadi, penyakit akan timbul pada penghuni rumah adalah pegel linu ;
3.2. Sawo (achras zapota L) Sabo dalam bahasa lokal Sasak, Sifat pohon sawo ini adalah adem terkadang panas, dengan sifat yang dimiliki oleh pohon tsb. Maka menurut faham Sasak, rumah tangga tidak akan rukun dan akan sangat sulit untuk berkomunikasi dengan tidak cocok dengan tanama tersebut ; pihak lain bahkan akan timbul bencana, terlebih lagi bagi orang yang
3.3. Jambu air (Eugenia agvera Burm/syzqromagueum) Nyambuq aer bahasa Sasak lokal, sifat tanaman jambu air ini adalah sangat disenangi orang terutama bagi anak-anak disamping itu, pohon ini memiliki sifat yang sangat sensitip mempengaruhi jiwa manusia, oleh karena sifat tersebut akan menimbulkan petaka bagi anak yang menhyukainya, sementara orang tua berada dibawah lalu anak akan naik memanjat pohon jambu tersebut, hal inilah yang menyebabkan tidak boleh karena akan berakibat kualat ( tulah manuh) bagi anak itu sendiri ;
3.4. Pohon Kelor (Moringga Olyvera ) Kelor bahasa Sasak, Sifat pohon ini adalah sangat sensitif dan cepat sekali rontok daunnya, bagi masyarakat yang profesionalnya sebagai dukun / belian, maka jika ada pohon kelor dihalamannya, maka mantranya tidak mempan dan tidak akan bertuah ( mentere pondal ) ;
3.5. Kedondong (Spondias Cyvorsa Sonn) Kedondon bahasa Sasak, Pohon ini tidak diperbolehkan ditanam di halaman rumah atau didalam pemukiman, sebab sifat tanaman ini membawa petaka bagi hewan ternak peliharaan, setiap adanya ayam yang naik tidur di dahan pohon kedondong, maka pada malam dini hari akan jatuh dan mati seketika, inilah sebabnya pohon ini tidak dibenarkan untuk ditanam di kampung halaman ;
3.6. Ceremai / Cermen ( Philentus Acidus ) Ceremi bahasa daerah, pohon ini cenderung membawa racun dihawatirkan ada yang usil mengganggu pohon itu akan terkena racunnya, pohon ini akan boleh ditanam dipinggir pekarangan / halaman tidak boleh berdekatan dengan rumah ;
3.7. Pohon johar ( /Sorca SP.) lolon Johar bahasa Sasak, pohon ini konon mengandung gratasi tinggi sehingga mampu mempengaruhi jiwa manusia, pohon ini menurut faham Sasak, cenderung memperkecil nyali orang yang memeliharanya, oleh karena itu, pohon ini tidak dipantaskan untuk ditanam dihalaman rumah atau di sekitar kampung / lokasi pemukiman, disamping itu pantang bagi masyarakat Sasak jika menanam pohon maja ( lolon bile) menjadi pagar halaman/ lambah Gubuknya, sebab jika ini dilakukan, ada kecenderungan akan sering terjadi perkelahian antar sesama penghuni kampung / gubug.

C. Bangunan Pendukung :
Membangun rumah tinggal tidak cukup dengan hanya rumah saja, akan tetapi perlu juga untuk mebuat atau membangun sarana logistik untuk keperluan rumah tangga khususnya dan keluarga besar pada umumnya, masyarakat sasak dalam menyikapi kebutuhan tersebut, mereka tidak membuat gudang atau sejenisnya, melainkan mereka membuat atau membangun sarana logistik yang khas atau tradisinya sendiri, sarana ini dinamakan Sambi, Alang, Lombung, masing-masing ini memiliki ciri dan bentuk tersendiri walaupun fungsinya sama misalnya :

1. S a m b i :
Sambi ini adalah salah satu sarana penyimpanan hasil pertanian bagi masyarakat, disamping ada jenis yang lain, sambi sejenis lumbung yang dalam bentuk rumah panggung, diatasnya dipergunakan sebagai tempat penyimpanan hasil pertanian, kemudian dibawahnya dapat dipergunakan sebagai tempat tidur atau tempat menerima tamu. Biasanya atap sambi ini dibuat lebih, atap yang lebih ini dibawahnya digunakan sebagi tempat menumbuk padi (Lilih ) sebagian dan sebagian lainnya dilengkapi dengan bale-bale yang terbuat dari bilah bambu, papan kayu sebagai alas duduk / tidur, pada umumnya sambi ini terbuat dari tiang kayu sedikitnya 4 buah tiang ada pula bertiang 6 sambi yang bertiang 6 ini disebut “Ayung”, karena sebagian dipakai untuk tempat tidur diatasnya, bangunan Sambi yang bertiang 8 buah, bangunan sambi ini disebut “Sambi Jajar” karena berbentuk memanjang semua bangunan sambi selalu dilengkapi dengan tangga tangga untuk naik dan didalamnya juga memiliki tangga untuk turun kedalam, sambi ini sangat relatip ukurannya karena disesuaikan dengan luas dan banyaknya hasil panen, sambi ini adalah bangunan yang permanen dengan dinding pagar bedek dengan atap alang-alang dengan satu pintu kecil sebagai jalan masuk keluarnya benda yang disimpan didalamnya, designe atap jurai yang puncak atapnya berbentuk nock / sun, menurut kebiasaan sambi lantainya terbuat dari tanah dan sebagian lantainya diperuntukkan sebagai tempat menumbuk padi dulu ketika belum adanya huller pemilikan sambi ini adalah perorangan, bulan kelompok masyarakat.

2. A l a n g :
Alang sebutan lokal atau tradisional Sasak yang artinya lumbung sebagai tempat menyimpan hasil pertanian, alang ini sampai sekarang masih dapat kita lihat didaerah selatan dan timur, dikota dapat kita lihat alang dibuat sebagai ciri khas/ spesifikasi bangunan Sasak terutama dikantor-kantor, Restauran bahkan dipintu gerbang Hotel berbintang, alang ini hampir tidak dikenal, sebab orang cenderung menyebutnya lumbung karena lumbung dalam bahasa Indonesia sebagaimana kita ketahui adalah tempat menyimpan segala kebutuhan, singkatnya sebuah sarana logistik, masyarakat sasak mengenal lumbung yang sama fungsinya akan tetapi tetapi lumbung dalam bahasa Sasak bentuknya sangat khas, alang dengan khasnya adalah beratapkan alang-alang yang berfungsi langsung sebagai dinding atap melengkung kira-kira ¾ lingkaran namun lonjong dan ujungnya tajam keatas, konstruksi bawahnya dengan empat tiang berpadu didukung dengan jelepeng ditiap-tiap ujung tiang bagian atas, pada bagian bawah bangunan alang ini biasa dipakai sebagai tempat beristirahat baik disiang maupun malam hari sambil menjaga hewan ternak yang ada., posisi alang biasanya diletakkan pada halaman belakang rumah atau dekat dengan kandang hewan.

3. L u m b u n g :
Lumbung menurut faham masyarakat Sasak sebuah tempat untuk menyimpan segala kebutuhannya, lumbung ini tidak sama dengan jenis lumbung lain seperti sambi dan alang, lumbung ini ada sebagian masyarakat membuatnya didalam rumah / dikamar, ada pula yang membuat tempat khusus diluar bangunan rumah, lumbung ini berbentuk bulat terbuat dari gulungan bedek kulitan dengan diameter satu setengah untuk lumbung yang ditempatkan di dalam rumah dan diameter 3 meter ini lumbung yang diletakkan diluar rumah, bahan untuk membuat lumbung adalam bambu, bedek dan papan kayu sebagai lantai, dibawah papan lantainya dibuatkan pondasi dari tanah dan batu pada empat sudut atap disangga oleh tiang kayu atau bambu, designe atapnya biasa seperti jurai atap rumah tinggal, lumbung ini biasanya dimiliki oleh petani penggarap, atau petani pemilik yang lahannya tidak banyak / tidak luas letak atau posisi lumbung biasanya didekat kandang ayam dan ditiap-tiap tiang bagian atas dipasang bakul kecil sebagai tempat bertelurnya ayam peliharaan.

III. UPAYA PELESTARIAN

Memperhatikan bentuk dan tata ruang serta struktur bangunan rumah atau pemukiman masyarakat komunitas Sasak yang sarat dengan nilai-nilai filsafat tinggi dan sakral, maka sangat perlu dilakukan upaya-upaya dalam rangka menumbuh kembangkan dan melestarikan keberadaannya, langkah-langkah yang lakukan sebagai upaya pelestarian tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Berupaya menanamkan pemahaman dan keyakinan masyarakat tentang nilai-nilai tradisional dan sakral pada arsitektur bangunan rumah adat Sasak tradisional kepada generasi penerus, sehingga nantinya diharapkan agar rasa memiliki pada diri mereka akan semakin kuat dan kental.

2. Memberikan motivasi kepada seluruh lapisan masyarakat dari berbagai elemen, bahwa arsitektur bangunan rumah Adat Sasak tradisional ini, memiliki nilai ekonomi yang tinggi, melalui kepentingan kepariwisataan di Kabupaten Lombok Tengah.

3. Melakukan upaya semaksimal mungkin agar dapat menarik perhatian dan simpati serta kepedulian semua pihak, agar ikut berupaya dalam pelestarian ini, contoh kasusu yang dapat kami sampaikan pada kesempatan ini, didaerah kami Lombok Tengah bagian selatan ( di Kecamatan Pujut) sedang dilaksanakan Proyek Pelestarian Rumah / Pemukiman Adat Sasak Tradisional, dimana Proyek ini dilaksanakan selama 5(lima) tahun secara bertahap, untk diketahui bahwa Proyek ini dananya bersumber dari APBN. dan untuk tahap pertama ini dananya sebesar
Rp. 198.000.000,00

4. Perlu adanya aksi kongkrit yang dilakukan oleh aparat dilingkungan Pemkab. Lombok Tengah beserta jajarannya yang mengarah kepada kelestarian lingkungan /pemukiman tradisional sebagai obyek wisaya yang handal.


IV. P E N U T U P

Sebagai individu yang merupakan bagian dari sebuah komunitas, lahir /tumbuh dan berkembang didaratan Pulau Lombok (Suku Sasak), sangat mencintai nilai-nilai teradisional yang dimilikinya, nilai tersebut sangat dirasakan manfaatnya sebagai dorongan moriel dalam melakukan sesuatu, dalam menyusun dan membuat tulisan ini, penyusun sadar bahwa tulisan ini sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu, kepada semua fihak sangat diharapkan saran dan petunjuk agar apa yang diharapkan sebagai upaya penumbuh kembangan dan pelestarian Rumah Adat Sasak Tradisional ini dapat terwujud optimal kedepan

Dengan segala jerih payah yang dilakukan untuk menghubungi Nara Sumber sehingga terwujudlah tulisan sederhana ini, kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua fihak yang telah memberikan sumbang saran kepada penyusun untuk kami suguhkan pada kesempatan ini.

Tak ada gading yang tak retak, jika tak retak maka bukanlah gading, sebuah kata bijak sengaja kami angkat sebagai ungkapan permohonan maaf kami jika tulisan ini kurang memuaskan, akhirnya dengan ucapan mohon maaf lahir bathin Minal Aidzin alfaidzini wal makbulin semoga ada manfaatnya bagi kami dan kita sekalian amiiin........

1 komentar:

atha gagah mengatakan...

kereeeen bo artikelnya
tampilin lagi dunk yang laen ex: pakaian, wayang sasak...etc
thanx